Sebenarnya kata-kata diatas adalah status saya di BBM siang ini. Ada teman yang nanya, “ko menjaring pelangi?” “Wah panjang neh, kalau di uraikan”. Memang memasang status yang mengundang tanya dan persepsi adalah hal yang menarik, hehe. Setiap orang berhak punya tafsir terhadap status seseorang, baik status BBM, ngetweet ataupun status FB. Tetapi sebenarnya orang yang membuat statuslah yang paling tahu makna dari status yang ia buat meskipun tafsirnya sekali lagi bukan tafsir tunggal. Karena orang yang membaca juga punya ruang untuk memahami kondisi yang mungkin sedang dialami si pemilkik setatus.
Tetapi mari kita kembali ke “menjaring pelangi”. Dalam persepsi saya begini. Hidup yang kita alami ini akan menjadi menarik bila banyak warna. Ya seperti pelangi. Pelangi akan terlihat indah, mendamaikan orang yang melihatnya bila warna-warna Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu atau kalau dulu waktu saya masih SD disingkat mijikuhibiniu tampak semuanya. Saya tidak tahu kalau sekarang sudah ada singkatan baru. Sebenarnya begitu juga kehidupan kita. Kehidupan kita akan sangat mengesankan bila kita menghadapi banyak masalah dan tantangan. Kenapa begitu? Ini yang harus kita rubah sudut pandangnya. Sebenarnya masalah atau saya lebih suka menggunakan kata tantangan adalah sarana pembelajaran dan sarana pendewasaan dalam kehidupan kita. Kata kuncinya adalah semakin banyak kita menghadapi masalah dalam hidup ini harusnya membuat kita semakin dewasa. Meski akhirnya ada juga orang yang sudah banyak menghadapi tantangan hidup tapi masih kekanak-kanakan juga kelakuannya. Ada kan? Tapi kadangkala kalau masalah yang kita hadapi sebagai sebuah ujian, seperti ujian kenaikan kelas atau ujian kelulusan sekolah. Maka semakin banyak kita mengikuti ujian-ujian tersebut harusnya semakin matang pengetahuan dan kepahaman kita tentang segala sesuatu dan semakin naik juga tingkat kita kan?
Begitupun ilmu masalah , semakin kita sering menghadapi masalah. Hal itu akan menuntut kita menjadi lebih dewasa dan lebih mandiri. Mampu menyelesaikannya secara laki-laki (bagi yang laki-laki bukan cowok) atau lebih tepatnya secara dewasa. Dan mampu mencari solusi dari masalah-masalah yang kita hadapi bukan malah lari menghindarinya. Saya selalu teringat kata-kata ini, lebih baik berdarah-darah di masa muda dari pada menangis di masa tua.
Kalau ingin melihat masa depan kita menjadi menarik, penuh warna, banyak cerita yang bisa kita sampaikan ke anak cucu, maka mulai sekarang jangan pernah menjadi orang yang suka lari dari masalah, tetapi begitu bertemu masalah, hadapi, terjang, hancurkan. Biar kita bisa melihat indahnya pelangi di senja kehidupan kita nantinya. Warna yang indah mendamaikan, menentramkan dan dapat kita nikmati bersama pasangan terbaik kita, juga bersama anak cucu kelak di sebuah telaga kebahagiaan. Tantangan hari ini untuk kebahagiaan di masa depan.
Monggo Lanjut...
Rabu, 09 November 2011
Selasa, 08 November 2011
Kehilangan kecil untuk sesuatu yang besar
Beberapa waktu yang lalu saya cukup di kejutkan dengan adegan menarik di depan saya. Disiang hari yang terik sedang tergelepar sesuatu yang seolah menunjukkan pemberontakan. Menginginkan kebebasan, tidak ingin dalam tekanan. Apa yang saya lihat? Seekor (atau lebih tepatnya ekor saja ga perlu pake se-) Cicak (ekornya) sedang “menari-nari” karena baru saja putus dari anggota badannya yang utuh. Saya sendiri tidak tahu kenapa akhirnya Cicak tersebut pada siang yang panas ini memutuskan ekornya. Tapi dalam sudut pandang yang lebih ideologis maka saya teringat pelajaran biologi entah kapan waktu SMP kelas berapa. Memutuskan ekor adalah salah satu cara mempertahankan hidup yang di lakukan oleh Cicak, seperti mengeluarkan tinta cairan hitam oleh Cumi-cumi bila merasa dalam kondisi bahaya dan diserang musuh. Begitupun siang itu, mungkin sang Cicak merasa dalam kondisi berbahaya dan merasa terancam sehingga Cicak akhirnya mengeluarkan strategi pertahan diri. Mungkin sakit juga kalau harus memutus bagian tubuh yang dimiliki, meskipun nanti akan tumbuh lagi. Tetapi untuk sebuah alasan yang lebih besar yakni mempertahankan hidupnya akhirnya memutus bagian ekor menjadi sebuah pengorbanan yang layak di lakukan oleh Cicak tadi.
Siang itu saya diajari tentang cara hidup oleh seekor Cicak. Bahwa kadangkala kita harus mengorbankan sesuatu yang kita cintai untuk hal yang lebih besar dalam hidup kita. Hari ini bisa jadi Allah “mengambil” apa yang kita milki. Meskipun pada hakikatnya semua yang kita miliki adalah milikNya bukan? Orang tua, keluarga, harta benda, bahkan diri kita sendiri juga adalah milikNya. Kenapa kadangkala Allah mengambil sesuatu yang kita cintai, pasti Dia memiliki alasan yang rasional dan lebih baik. Cuma kita saja yang belum tahu apa hikmah dari semua kehilangan itu. Ini dalam sudut pandang kehilangan sebagai bagian takdir. Allah punya rencana dalam hidup kita yang pasti baik.
Kalau dalam sudut pandang manusianya sendiri bagaimana? Hari ini yang akhirnya kita mengorbankan waktu tidur kita untuk sebuah kerja keras. Hari ini banyak orang yang tetap berderma meskipun mereka dalam keadaan sulit, mereka yang rela menolong meski dalam kondisi kesusahan, mereka yang mau mengorbankan cicta-cita pribadi untuk cita-cita bangsanya. Jelas kita musti memberikan apresiasi pada orang tua kita yang rela begadang sepanjang malam menjaga kita pada waktu kita masih bayi. Kenapa orang –orang itu rela mengorbankan sesuatu yang sebenarnya secara fitrah dicintainya? Tidur nyenyak sepanjang malam, memenuhi kebutuhan sendiri sebelum berderma, menolong dirinya sendiri sebelum menolong orang lain? Pasti ada alasan yang lebih besar mengapa mereka semua rela melakukan hal-hal tersebut. Karena memang kadangkala kita perlu mengorbankan sesuatu yang kita cintai untuk hal-hal besar yang kita harapkan di masa depan. Jadi bukan kehilangannya yang kudu kita perhatikan, tapi untuk apa kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai? Untuk hal kecil yang remeh atau untuk masa depan yang lebih baik dan lebih membahagiakan. Monggo Lanjut...
Siang itu saya diajari tentang cara hidup oleh seekor Cicak. Bahwa kadangkala kita harus mengorbankan sesuatu yang kita cintai untuk hal yang lebih besar dalam hidup kita. Hari ini bisa jadi Allah “mengambil” apa yang kita milki. Meskipun pada hakikatnya semua yang kita miliki adalah milikNya bukan? Orang tua, keluarga, harta benda, bahkan diri kita sendiri juga adalah milikNya. Kenapa kadangkala Allah mengambil sesuatu yang kita cintai, pasti Dia memiliki alasan yang rasional dan lebih baik. Cuma kita saja yang belum tahu apa hikmah dari semua kehilangan itu. Ini dalam sudut pandang kehilangan sebagai bagian takdir. Allah punya rencana dalam hidup kita yang pasti baik.
Kalau dalam sudut pandang manusianya sendiri bagaimana? Hari ini yang akhirnya kita mengorbankan waktu tidur kita untuk sebuah kerja keras. Hari ini banyak orang yang tetap berderma meskipun mereka dalam keadaan sulit, mereka yang rela menolong meski dalam kondisi kesusahan, mereka yang mau mengorbankan cicta-cita pribadi untuk cita-cita bangsanya. Jelas kita musti memberikan apresiasi pada orang tua kita yang rela begadang sepanjang malam menjaga kita pada waktu kita masih bayi. Kenapa orang –orang itu rela mengorbankan sesuatu yang sebenarnya secara fitrah dicintainya? Tidur nyenyak sepanjang malam, memenuhi kebutuhan sendiri sebelum berderma, menolong dirinya sendiri sebelum menolong orang lain? Pasti ada alasan yang lebih besar mengapa mereka semua rela melakukan hal-hal tersebut. Karena memang kadangkala kita perlu mengorbankan sesuatu yang kita cintai untuk hal-hal besar yang kita harapkan di masa depan. Jadi bukan kehilangannya yang kudu kita perhatikan, tapi untuk apa kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai? Untuk hal kecil yang remeh atau untuk masa depan yang lebih baik dan lebih membahagiakan. Monggo Lanjut...
Langganan:
Postingan (Atom)