Senin, 16 Januari 2012

Apapun yang Terjadi Pada Diri Anda Kemarin, Tersenyumlah Karena Anda Masih Memiliki Hari ini.

Mungkin judul di atas kepanjangan ya? Hehe, tetapi saya sangat menyukai kata-kata diatas. Anda tahu kata-kata diatas berasal dari siapa? Hmmmmm. Penasaran? Jadi begini ceritanya. Suatu ketika, saat saya sedang suntuk, entah karena pekerjaan atau memikirkan hal yang lain, dan dalam perjalanan pulang saya bertemu dengan rekan kerja yang lain. Mungkin karena wajah saya yang menunjukkan wajah suntuk dan kuyu, rekan tersebut bertanya “ehh ada apa Pak? Kayaknya suntuk banget neh?” “ahh gapapa Pak, cuma capek saja mungkin” jawab saya. “owh begitu Pak, tapi mohon maaf Bapak kalau saya boleh memberi nasehat, apapun yang terjadi pada diri Bapak kamarin, tersenyumlah karena Allah masih memberi Bapak hari ini”, tertegun juga saya mendengar nasehat ini. Dan Anda benar ingin tahu nasehat ini datangnya dari siapa? Nasehat ini datang dari security kami di kantor. Ya, “hanya” dari seorang security.
Disini saya ingin mengajak Anda belajar 2 hal dari peristiwa ini. Pertama jangan pernah menganggap bahwa tatkala ada orang yang profesinya lebih “rendah” dari pada Anda berarti Anda tidak membutuhkan nasehat dari orang tersebut. Itu sebuah kesalahan. Karena tatkala kita merasa sudah berilmu, sudah merasa mengetahui segala hal dalam hidup, maka disanalah awal dari kebodohan kita. Kita merasa tidak membutuhkan nasehat lagi, merasa sudah dewasa, bijakasana apalagi bila nasehat itu datangnya dari orang yang mungkin memiliki “kasta” sosial yang lebih rendah dari kita, kita merasa mereka tidak layak memberikan nasehat kepada kita. Kita merasa tatkala orang-orang yang secara pendidikan lebih rendah dari pada kita juga tidak layak memberi nasehat kepada kita. Hmmmm, betapa sombongnya kita. Padahal sesungguhnya hikmah itu bisa berasal dari siapapun yang bahkan mungkin dari orang yang tidak kita sangka-sangka. Kebijaksanaan itu bisa berasal dari seorang tukang becak, pedagang dipasar, anak-anak SD, ya bahkan siapapun orang yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita dan pernah berinterkasi dengan kita, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan Allah perlihatkan kepada kita. Allah ingin mengajari kita tentang suatu hal, tentang suatu kebijaksanaan yang bisa jadi berangkatnya dari siapapun yang tidak kita sangka-sangka. Di saat yang lain saya menjadi teringat dengan seorang nenek yang kami anggap sebagai nenek kami sendiri sewaktu saya masih tinggal di Asrama Beastudi Etos Semarang, setiap pagi beliau menjual sarapan kepada kami, bahkan pada waktu Bulan Ramadhan pun beliau tetap menjual makanan untuk sahur kepada kami. Padahal beliau sudah berumur, dan memiliki anak-anak yang saya yakin dapat menanggung beban hidup beliau. Tatkala di pagi hari selepas subuh di Masjid saya sempatkan ngobrol-ngrol dengan Mbah kami ini. Pada waktu itu saya tanyakan kepada beliau kenapa beliau mau repot-repot menyiapkan sarapan bagi kami di Asrama Etos dengan harga yang sangat murah sekali. Apa jawaban beliau waktu itu? Beliau menyampaikan bahwa alasan utama kenapa beliau mau membuatkan sarapan bagi kami adalah karena beliau ingin membantu kami, ya membantu dengan menyiapkan sarapan harga murah tapi cukup bergizi sebelum kami memulai aktivitas di setiap harinya. Coba bayangkan betapa mulianya perbuatan beliau. Terharu saya waktu mendengar penjelasan dari beliau waktu itu. Ingat, nasehat itu bisa berangkat dari siapapun baik secara langusng maupun tidak langsung. Kitalah yang musti lebih peka, apa sebenarnya yang ingin Allah sampaikan kepada kita dengan kejadian ini? Seringlah bertanya kepada diri kita masing-masing
Kedua, saya ingin mengajak Anda untuk bersama belajar tentang rasa syukur dari nasehat rekan kerja saya tadi. Memang salah satu konskuensi kehidupan adalah masalah, kalau kita anggap setiap hal yang menimpa kita adalah masalah. Tetapi tatkala setiap hal yang menimpa kita dalam kehidupan ini kita pandang bahwa tidak pernah terjadi secara kebetulan dan semua adalah rencanaNya maka yang ada adalah pembelajaran dan pembelajaran. Kita musti belajar lebih baik, lebih dewasa dan lebih bijaksana dalam melihat kehidupan ini. Dan jangan pernah khawatir tatkala di masa lalu, di hari kemarin kita ternyata memiliki masa lalu yang tidak baik, memiliki hari yang “buruk”, jangan patah arang, jangan patah semangat, jangan pernah menyerah. Tersenyumlah, bersyukurlah bahwa Dia masih menganugerahkan hari yang luar biasa pada Anda, yakni hari ini. Ya, apapun yang terjadi pada diri Anda kemarin, tersenyumlah karena Anda masih memiliki hari ini. Bukan berarti kita tidak boleh menengok kebelakang, melihat masa lalu, bukan berarti kita tidak boleh memandang hari kemnarin, tidak. Tetapi jadikan semua hal yang kita dapat di masa yang lalu, di hari kemarin sebagai ajang pembelajaran bagi kita, betapapun payahnya hari yang kita lewati kemarin tersenyumlah karena kita masih memiliki hari ini, jadikan hari ini sebagai ladang kerja keras, jadikan hari ini sebagai lahan pembelajaran, jadikan hari ini sebagai tanah kebijaksanaan. Ya karena memang kita hanya memiliki hari ini, kerena kemarin adalah masa lalu, besok adalah misteri dan hari ini adalah anugerah. Tetap semangat, tetap bergerak, semoga menjadi lebih bijaksana. Jadikan semua hal yang menimpa kita sebagai ajang pembelajaran bagi kita.
Terimakasih atas inspirasinya Bang Dendy Koswara. Monggo Lanjut...

Kamis, 05 Januari 2012

“buta warna” kehidupan

Suatu pagi di sebuah kampung terjadilah dialog sebagai berikut
“bro, kayake sapimu itu kok mirip banget sama sapiku ya?” kata Jhono.
“hmmm, kalau dilihat dari belakang sih iya, mirip banget bro” timpal Parto.
“gimana kalau ekor sapimu, dipotong saja bro”usul Jhono.
“Wah ide menarik tuh bro” sahut Parto.
akhirnya dipotonglah ekor sapi si Parto. Setelah beberapa saat sapi mereka asyik makan rumput di pinggiran kampung.
Si Jhono menimpali lagi ”ehh bro, kalo dilihat-lihat dari depan neh, kayaknya sapi kita tetap mirip neh”
“iya bener bro” sahut Parto.
“enaknya gimana ya?” tanya Jhono.
“bagaimana kalau telinga sapimu kamu potong saja bro, kan tadi ekor sapiku sudah ku potong” usul Parto.
“wah boleh tuh” jawab Jhono.
Benar, tepat setelah itu di potonglah telinga sapi si Jhono.
“nah kalau begini pasti ga akan ketuker neh sapi kita bro” kata Jhono.
“ sip sip” sahut Parto.
“ehh itu ada anak SD baru pulang sekolah, kita tanya dia saja deh untuk ngecek perbedaan sapi kita” usul Jhono.
“boleh boleh” sahut Parto.
Di panggillah anak SD yang lewat itu.
“ehh de, sini sini, abang mau nanya. Kamu lihat 2 sapi kita itu kan” kata jhono.
“iya bang” jawab anak SD.
“menurut kamu ke dua sapi itu beda ga?” tanya Jhono.
“iya, beda bang, yang satu warnanya coklat, yang satu warnanya putih”.
Kalau Anda ingin tertawa “go a head”
(cerita ini cerita fiksi, diambil dari berbagai sumber, dirangkum guna hiburan semata tanpa bermaksud menghina suatu kelompok) hehe
Pembaca yang budiman, apa poin yang bisa Anda tangkap dari cerita di atas? Bahwa kadangkala kita terburu-buru dan gegabah dalam mengambil sebuah tindakan tanpa tahu esensi dari tindakan yang kita ambil. Kenapa begitu? Inilah yang saya sebut sebagai “buta warna” kehidupan. Acapkali kita di hadapkan pada masalah pelik yang dalam waktu yang cepat musti mengambil keputusan, tetapi di satu sisi kita belum memiliki pengetahuan atau data yang cukup untuk mengambil sebuah keputusan yang benar-benar tepat. Tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah bukan karena pengetahuan kita yang terbatas tetapi lebih pada kita tidak tahu esensi masalah yang kita hadapi. Kenapa akhirnya para pemuda tadi malah memotong ekor dan telinga sapi-sapi mereka? Ya, karena ketidaktahuan mereka bahwa warna kulit sapi mereka sudah berbeda. Bisa jadi hal ini juga terjadi pada kehidupan kita, ada beberapa orang yang merasa salah ambil jurusan pada waktu memasuki bangku perkuliahan dikarenakan ketidaktahuan apa yang nanti akan di pelajari di jurusan yang sudah kadung di ambil. Atau pada kasus yang lain ada orang-orang yang terlanjur memutus tali silaturahim hanya karena berdasar informasi menyesatkan dari sumber yang tidak dapat di percaya. Betapa banyak orang yang akhirnya menyesal karena sudah terlanjur mengerjakan sesuatu yang salah dalam hidupnya.
Bukan, tulisan ini bukan ingin mengajari agar kita menjadi penakut, terlalu pemikir sebelum bertindak. Saya katakan tidak, saya hanya ingin mengajak Anda untuk lebih hati-hati, bijaksana dan lebih arif dalam mengambil sebuah keputusan-keputusan dalam hidup Anda. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang tergesa-gesa dalam mengambil sebuah keputusan, padahal kita belum mengetahui benar esensi dari apa yang nanti akan kita putuskan. Belajarlah menjadi orang yang lebih bijak tatkala kita akan mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidup kita. Tetapi tatkala kita sudah memutuskan sesuatu dalam hidup kita, maka yang lebih baik adalah kita siap dengan konskuensi dari keputusan yang kita ambil, tidak perlulah menyesal, teruslah melihat kedepan. Jadikan semuanya sebagai pembelajaran agar kita menjadi lebih arif dan lebih bijaksana dalam melihat hidup.
Wallahu a’lam Monggo Lanjut...