Senin, 22 Februari 2010

Kekeluargaan

Lebaran haji ini akhirnya aku memutuskan untuk merayakannya di kampung halaman. Di sebuah kampung kecil di pingggiran Kota Blora, sebuah kampung yang telah mendidik dan membesarkanku, bukan hanya dari sisi fisik tapi juga karakter. Dan dari kampung inilah aku belajar banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Dan kepulanganku kemarin ke kampung halaman telah mengajarkankanku kembali tentang satu hal bermakna dalam serial pembelajaran kehidupan. Kekeluargaan.

Ceritanya begini, kami memiliki satu orang tetangga yang cukup kami hormati, karena beliau, tetangga sebelah rumah kami ini adalah sesepuh kampung, yang pendapatnya di dengar oleh banyak warga, selain itu beliau juga Ketua RT kami. Dan hari Jum’at yang lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 2009 beliau terkena sakit magg yang sangat kronis, yang akhirnya memaksa keluarga membawa beliau ke Puskesmas terdekat.

Atas inisiatif Ayahku, akhirnya kami sekeluarga datang ke Puskesmas untuk menjenguk beliau. Tepat setelah Maghrib kami berangkat ke Puskesmas di mana tetangga kami di rawat. Yang datang pada waktu itu untuk menjenguk ternyata bukan hanya keluarga kami, tetapi beberapa orang yang memang kenal dekat dengan tetangga kami ini juga sudah berdatangan. Pada waktu kami datang beliau sedang terbaring menahan perih dengan selang infus terpasang di tangan beliau.. Beberapa anggota keluarga, kami lihat menangis.

Satu dua orang tetangga kami yang lain mulai berdatangan, tetapi lama kelamaan ruangan sempit di Puskesmas itu menjadi penuh bahkan sesak, akhirnya kami yang datang lebih dulu harus mengalah dan memberikan kesempatan bagi pengunjung yang lain untuk menjenguk beliau. Dan kalau coba aku hitung-hitung mungkin jumlahnya ada sekitar 50an orang lebih. Aku terharu, bukan melihat kesakitan tetangga kami, tetapi aku terharu melihat betapa banyaknya orang yang datang untuk menjenguk beliau dan betapa rasa kekeluargaan itu masih sangat erat dan melekat dalam kampung kami. Aku terharu, benar-benar terharu dan bersyukur, bahwa kami masih memiliki kampung yang luar biasa menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan kekerabatan.

Dan malam itu kami belajar untuk tidak lagi menjadi egois, berpikir hanya untuk dirinya sendiri, tetapi malam itu kami belajar untuk menjadi warga yang ramah pada tetangganya, warga yang peduli dengan penderitaan sesama, warga yang mencintai masyarakatnya, dan aku belajar tentang kekeluargaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar