Hanya sekedar sharing saja, metode ini yang saya uji cobakan pada diri saya sendiri dan memang beberapa kali berhasil. Tetapi bisa jadi metode ini tidak cocok untuk Anda. Karena masiing-masing kita adalah manusia-manusia unik yang memiliki perbedaaan cara berpikir dan pasti juga memiliki cara yang berbeda pula dalam menghadapi rasa malas.
Salah satu hal yang tidak menjadi kegemaran saya (bahasa halusnya malas, hehe) semenjak pindah ke Bogor adalah mencuci baju. Karena sewaktu di Semarang saya lebih banyak “memberdayakan” ekonomi masyarakat (beuhhhh) dengan luandry. Dan setelah di Bogor saya juga mencoba laundry dekat kos. Tapi aduh, kecewa berat saya dengan hasilnya. Wangi sih boleh tapi sangat-sangat tidak rapi, lipatan bajunya tidak tepat. Selain itu harganya 2 kali lebih mahal dari pada di Semarang, dan mungkin faktor yang terakhir ini yang membuat saya semakin tidak menggemari laundry di Bogor ( setidaknya laundry yang deket kos-kos an).
Nah seperti Sabtu siang ini, saya masih malas-malasan untuk mencuci baju saya, padahal seluruh baju kerja kayake sudah habis. Dan hari Minggu besok saya sudah ada agenda. Harusnya memang pagi tadi saya musti segera mencuci baju-baju yang menumpuk ini. Tapi saya termasuk orang yang moody, ahh nunggu nanti lah kalo saya sudah ada semangat mencuci. Saturday adalah lazy day. Hari bermalas-malasan, tidur-tiduran di kasur sambil memegang romote tivi. Tambah ngemil makanan ringan, asyik banget dah, hahaha. Tapi ternyata yang di tunggu-tunggu yakni mood semangat tak kunjung datang, padahal cucian musti segera di tunaikan. Terus piye jal?
Dengan langkah gontai saya ambil setumpuk baju itu dan saya bawa ke tempat mencuci, saya ambil deterjen, masukin baju ke ember kasih deterjen siram air. Artinya saya sedang merendam baju tersebut beberapa saat. Mengucek baju juga adalah hal yang tidak menyenangkan buat saya, huffttthh. Tapi setelah mengucek beberapa saaat dan melihat baju yang bersih, memelihat hasil baju di jemuran, ahhhh, usaha saya tidak sia-sia. Panas juga sangat mendukung. Dan apa yang terjadi? Tanpa mengenal lelah habislah seluruh baju kotor itu dan menjadi baju besih di jemuran. Yang saya rasakan adalah ternyata rasa malas itu kalah dengan kerja keras yang saya lakukan. Jadi jangan menunggu semangat untuk memulai sesuatu pekerjaan tapi mulailah bekerja maka semangat itu akan datang padamu. Ga percaya? Coba saja sendiri. Hehe
Sebenarnya ini hanya analagi bagi pekerjaan-pekerjaan kita yang lain. Banyak dari kita (tentu salah satunya saya) suka sekali menunda-nunda pekerjaan dengan alasan menunggu datangnya moody. Tetapi moody tak kunjung datang dan apa yang akhirnya terjadi? Ya, yang ada adalah pekerjaan itu menjadi semakin menumpuk dan tak tersentuh. Karena pekerjaan yang semakin banyak yang ada malah membuat kita semakin malas untuk segera menyelesaikannya dan cenderung untuk membiarkannya. Bila saat ini kita mulai malas mengerjakan sesuatu maka kerjakan saja dulu, dan bila Anda sudah melihat hasilnya nanti, tiba-tib rasa semangat itu akan mendatangi Anda dan memberikan kekuatan serta doronagn bagi Anda untuk terus menyelesaikan pekerjaan itu meskipun rasa capek telah datang. So jangan menunggu Anda termotivasi baru berbuat, tapi berbuatlah maka Anda akan termotivasi.
(Inspirasi dari Satria Hadi Lubis, sukron Ustad)
Senin, 14 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar