Senin, 19 Desember 2011

Integritas

Tepat hari Minggu kemarin, saya kebetulan memiliki janji berjumpa dengan kawan lama saya semasa kuliah dulu di UNDIP Semarang, Mas Decky. Seorang kawan lama yang menyenangkan. Kami berjanji ketemu di Stasiun UI Depok. Tepat setelah menunggu KRL Ekonomi hampir 1 jam lamanya di Stasiun Bogor akhirnya setelah perjalanan hampir 30 menit lebih saya tiba di Stasiun UI. Ternyata setelah meraba saku jaket tiket kereta yang saya miliki masih utuh, tidak ada petugas yang datang untuk untuk melubangi tiket seperti biasanya atau memang kalau di KRL Ekonomi tidak ada petugas yang melubangi? Entahlah saya tidak tahu. Tatkala saya bertemu dengan kawan lama saya ini, saya sampaikan kepadanya “bro sebenarnya saya bisa saja neh ga usah beli tiket lagi, ne tiket masih utuh” kata saya sambil menunjukkan tiket kepadanya. “ wah boleh tu bro, tapi emangnya ente mau?” tanyanya. “nah makanya ane bilang, sebenarnya ane bisa, tapi ga ahh. Ini bukan perkara uang Rp. 2000,- tapi ini perkara integritas” kata saya.
Kali ini saya tidak ingin menyoroti kinerja dari salah satu BUMN di negeri ini, karena memang saya tidak memiliki kapasitas itu. Tetapi pada tulisan ini saya ingin kita lebih melihat kedalam diri kita masing-masing. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita yang instan dan cepat, juga karena pelayanan umum yang belum layak, termasuk transportasi umum, kita akhirnya ikut-ikutan menjadi pengen cepat, tidak jujur dan melupakan prinsip-prinsip yang kita yakini kebenarannya. Karena males ikut sidang akhirnya kita “memilih” “sidang” di tempat tatkala ditilang sama oknum polantas. Yang sesungguhnya hal itulah yang menjadi pupuk penyubur tindakan ilegal di aparat penegak hukum kita. Karena tidak belajar akhirnya kita memilih menyontek tatkala ujian, toh guru atau dosennya juga tidak tahu, kita mementingkan nilai, memang nilai itu penting tetapi bernilai itu lebih penting. Karena tidak ada polisi yang berjaga dan betapa macetnya lalulintas, kita menjadi terbiasa untuk tetap melaju meski lampu merah sedang menyala. Karena ijin usaha yang rumit diperoleh akhinya kita lewat jalan belakang. Karena SIM “pasti” ditolak kalau ujian secara ”benar-benar” akhirnya kita memilih untuk memberikan pelicin “uang kesehatan” agar kita memperoleh SIM. Juga karena karena yang lain. Kita sudah terlalu lelah kalau harus mengingat bahwa hari ini prinsip-prinspip kejujuran sudah benar-benar terkuras habis dalam kehidupan masyarakat kita. Bahkan sering saya menemukan tatkala berbelanja di warung atau di sebuah toko dan meminta nota, pasti di tawari nota kosong atau mau di isi berapa pak? Sungguh ironis sekali kejujuran di negeri ini, kita sudah terdidik menjadi generasi mendapatkan bahwa kejujuran itu menjadi sebuah ketidak wajaran, sesuatu yang asing, tempat yang jauh dan tak terjangkau. Pada akhirnya kita seringkali memilih untuk tidak jujur.
Sebaiknya mari kita tidak saling menghujat, kita mulai dari diri kita masing-masing untuk membenahinya. Tidak usah di mulai dari sesuatu yang besar, mulailah dari apa yang kita bisa dan kita mampu. Semoga kejujuran-kejujuran kecil yang kita lakukan akan berdampak baik untuk bangsa dan masyarakat kita kedepan, bisa jadi bukan kita yang menikmatinya tetapi anak cucu kita nanti.
Sore itu, setelah selesai berdiskusi, ngobrol ngalor ngidul dengan kawan lama saya tadi, saya di antar kembali ke Stasiun UI Depok. Tiket KRL Ekonomi masih utuh di saku jaket. Tetapi saya memilih membeli tiket baru comuterline untuk perjalanan pulang ke Bogor. Astagfirullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar