Tepat hari Minggu kemarin, saya kebetulan memiliki janji berjumpa dengan kawan lama saya semasa kuliah dulu di UNDIP Semarang, Mas Decky. Seorang kawan lama yang menyenangkan. Kami berjanji ketemu di Stasiun UI Depok. Tepat setelah menunggu KRL Ekonomi hampir 1 jam lamanya di Stasiun Bogor akhirnya setelah perjalanan hampir 30 menit lebih saya tiba di Stasiun UI. Ternyata setelah meraba saku jaket tiket kereta yang saya miliki masih utuh, tidak ada petugas yang datang untuk untuk melubangi tiket seperti biasanya atau memang kalau di KRL Ekonomi tidak ada petugas yang melubangi? Entahlah saya tidak tahu. Tatkala saya bertemu dengan kawan lama saya ini, saya sampaikan kepadanya “bro sebenarnya saya bisa saja neh ga usah beli tiket lagi, ne tiket masih utuh” kata saya sambil menunjukkan tiket kepadanya. “ wah boleh tu bro, tapi emangnya ente mau?” tanyanya. “nah makanya ane bilang, sebenarnya ane bisa, tapi ga ahh. Ini bukan perkara uang Rp. 2000,- tapi ini perkara integritas” kata saya.
Kali ini saya tidak ingin menyoroti kinerja dari salah satu BUMN di negeri ini, karena memang saya tidak memiliki kapasitas itu. Tetapi pada tulisan ini saya ingin kita lebih melihat kedalam diri kita masing-masing. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita yang instan dan cepat, juga karena pelayanan umum yang belum layak, termasuk transportasi umum, kita akhirnya ikut-ikutan menjadi pengen cepat, tidak jujur dan melupakan prinsip-prinsip yang kita yakini kebenarannya. Karena males ikut sidang akhirnya kita “memilih” “sidang” di tempat tatkala ditilang sama oknum polantas. Yang sesungguhnya hal itulah yang menjadi pupuk penyubur tindakan ilegal di aparat penegak hukum kita. Karena tidak belajar akhirnya kita memilih menyontek tatkala ujian, toh guru atau dosennya juga tidak tahu, kita mementingkan nilai, memang nilai itu penting tetapi bernilai itu lebih penting. Karena tidak ada polisi yang berjaga dan betapa macetnya lalulintas, kita menjadi terbiasa untuk tetap melaju meski lampu merah sedang menyala. Karena ijin usaha yang rumit diperoleh akhinya kita lewat jalan belakang. Karena SIM “pasti” ditolak kalau ujian secara ”benar-benar” akhirnya kita memilih untuk memberikan pelicin “uang kesehatan” agar kita memperoleh SIM. Juga karena karena yang lain. Kita sudah terlalu lelah kalau harus mengingat bahwa hari ini prinsip-prinspip kejujuran sudah benar-benar terkuras habis dalam kehidupan masyarakat kita. Bahkan sering saya menemukan tatkala berbelanja di warung atau di sebuah toko dan meminta nota, pasti di tawari nota kosong atau mau di isi berapa pak? Sungguh ironis sekali kejujuran di negeri ini, kita sudah terdidik menjadi generasi mendapatkan bahwa kejujuran itu menjadi sebuah ketidak wajaran, sesuatu yang asing, tempat yang jauh dan tak terjangkau. Pada akhirnya kita seringkali memilih untuk tidak jujur.
Sebaiknya mari kita tidak saling menghujat, kita mulai dari diri kita masing-masing untuk membenahinya. Tidak usah di mulai dari sesuatu yang besar, mulailah dari apa yang kita bisa dan kita mampu. Semoga kejujuran-kejujuran kecil yang kita lakukan akan berdampak baik untuk bangsa dan masyarakat kita kedepan, bisa jadi bukan kita yang menikmatinya tetapi anak cucu kita nanti.
Sore itu, setelah selesai berdiskusi, ngobrol ngalor ngidul dengan kawan lama saya tadi, saya di antar kembali ke Stasiun UI Depok. Tiket KRL Ekonomi masih utuh di saku jaket. Tetapi saya memilih membeli tiket baru comuterline untuk perjalanan pulang ke Bogor. Astagfirullah.
Monggo Lanjut...
Senin, 19 Desember 2011
Selasa, 13 Desember 2011
Santun dan Sigap Membantu
Suatu kali ada seorang pemuda yang sedang terburu-buru ingin mengikuti suatu acara di Jln Sriwijaya, Kota Semarang. Pemuda ini memacu kendaraannya agak terburu karena sudah ada janji dengan rekannya. Tetapi naas, baru sampai di daerah Jatingaleh kawasan PLN Jateng, ternyata terasa ada susuatu yang tidak nyaman dengan ban belakang sepeda motor yang ia kendarai, setelah dia cek ternyata benar, ban belakang motornya bocor. Setelah agak dipaksa untuk jalan beberapa saat, akhirnya ketemu juga tukang tambal ban di Kawasan Kesatrian.
Setelah ngobrol sebentar dengan tukang tambal ban, di serahkanlah sepenuhnya urusan tambal menambal ban tersebut pada ahlinya. Pemuda tersebut akhirnya duduk di kursi dan menunggu proses tambal ban. Beberapa menit kemudian pemuda yang sedang mengamati proses penambalan ban motornya ini dibuat bingung oleh perilaku tukang tambal ban. Tukang tambal ban ini mutar-muter, kedepan belakang, berulang kali membongkar tempat peralatan kerjanya. Akhirnya dikarenakan melihat hal yang sepertinya tidak wajar tersebut pemuda ini berdiri dan bertanya kepada tukang tambal ban. “ada apa mas?” tanyanya. “ini mas, ban luarnya ga bisa dibuka, bagaimana saya bisa menambal ban dalamnya kalau ban luarnya saja ga bisa dibuka?” jawab tukang tambal ban. Menurut Anda bagaimana kira-kira kelanjutan kisah diatas? Kalau saya yang jadi pemuda tadi mungkin saya akan sedikit menggerutu sambil memaki tukang tambal ban.”gimana seh, ini kan pekerjaan Anda setiap hari? Masa membuka ban luar saja tidak bisa? Niat ga sih jadi tukang tambal ban?” haha. Itu kalau saya, atau mungkin juga Anda kali ya? Hehe
Tetapi Anda ingin tahu apa yang dilakukan sang pemuda pagi itu, dengan janji yang terburu-buru? Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, meletakkan tas punggungnya, melingkis lengan baju panjangnya dan berkata kepada tukang tambal ban. “coba sini mas saya bantu” begitu santun dan mulia perilaku pemuda ini. Setelah beberapa lama berusaha dan lumayan berkeringat, akhirnya ban luar motor bisa dibuka juga. Dan urusan menambal kembali diserahkan kepada tukang tambal ban.
Saudaraku yang budiman, tidak banyak hari ini kita menemui seorang pemuda yang berakhlak begitu santun dan mulia. Apalagi dalam kisah ini sang pemuda juga sedang ada janji dan terburu-buru. Saya yakin sebagian besar dari kita bisa jadi memilih meluapkan emosi negatif dibanding mengendalikannya dan membantu kesulitan sang penambal ban. Tapi dari kisah ini kita belajar bahwa meluapkan emosi dalam bentuk sebuah kemarahan sebenarnya bukan sebuah solusi yang menjawab permasalahan yang kita hadapi. Tetapi tatkala kita mampu mengelola emosi negatif yang kita miliki dengan menarik nafas dalam, berkata dengan tenang dan halus, dan malah berusaha membantu kesulitan yang dihadapi oleh tukang tambal ban, ternyata itulah solusi dari permasalahan yang kita hadapi.
Ini mungkin hanya satu buah cerita ringan yang sesungguhnya bisa jadi masing-masing kita pernah mengalaminya dalam versi yang berbeda. Tatkala tuntutan pekerjaan datang tanpa henti, tetapi tiba-tiba kita disela oleh masalah sepele tetapi bikin kesel, tiba-tiba pula kita kehilangan kebijaksanaan dan berubah menjadi “serigala-serigala” baru yang siap menerkam mangsanya. Padahal sebenarnya perilaku tersebut bukanlah sebuah jalan keluar atas masalah yang sedang mendera kita. Bila kita mau sedikit berbenah, merubah pola pikir, mengendalikan emosi yang kita miliki niscaya malah kita telah berhasil menemukan sebuah pencerahan baru bagi kehidupan kita, dan sesungguhnya semua yang kita lakukan tadi adalah demi kebaikan diri kita sendiri. Monggo Lanjut...
Setelah ngobrol sebentar dengan tukang tambal ban, di serahkanlah sepenuhnya urusan tambal menambal ban tersebut pada ahlinya. Pemuda tersebut akhirnya duduk di kursi dan menunggu proses tambal ban. Beberapa menit kemudian pemuda yang sedang mengamati proses penambalan ban motornya ini dibuat bingung oleh perilaku tukang tambal ban. Tukang tambal ban ini mutar-muter, kedepan belakang, berulang kali membongkar tempat peralatan kerjanya. Akhirnya dikarenakan melihat hal yang sepertinya tidak wajar tersebut pemuda ini berdiri dan bertanya kepada tukang tambal ban. “ada apa mas?” tanyanya. “ini mas, ban luarnya ga bisa dibuka, bagaimana saya bisa menambal ban dalamnya kalau ban luarnya saja ga bisa dibuka?” jawab tukang tambal ban. Menurut Anda bagaimana kira-kira kelanjutan kisah diatas? Kalau saya yang jadi pemuda tadi mungkin saya akan sedikit menggerutu sambil memaki tukang tambal ban.”gimana seh, ini kan pekerjaan Anda setiap hari? Masa membuka ban luar saja tidak bisa? Niat ga sih jadi tukang tambal ban?” haha. Itu kalau saya, atau mungkin juga Anda kali ya? Hehe
Tetapi Anda ingin tahu apa yang dilakukan sang pemuda pagi itu, dengan janji yang terburu-buru? Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, meletakkan tas punggungnya, melingkis lengan baju panjangnya dan berkata kepada tukang tambal ban. “coba sini mas saya bantu” begitu santun dan mulia perilaku pemuda ini. Setelah beberapa lama berusaha dan lumayan berkeringat, akhirnya ban luar motor bisa dibuka juga. Dan urusan menambal kembali diserahkan kepada tukang tambal ban.
Saudaraku yang budiman, tidak banyak hari ini kita menemui seorang pemuda yang berakhlak begitu santun dan mulia. Apalagi dalam kisah ini sang pemuda juga sedang ada janji dan terburu-buru. Saya yakin sebagian besar dari kita bisa jadi memilih meluapkan emosi negatif dibanding mengendalikannya dan membantu kesulitan sang penambal ban. Tapi dari kisah ini kita belajar bahwa meluapkan emosi dalam bentuk sebuah kemarahan sebenarnya bukan sebuah solusi yang menjawab permasalahan yang kita hadapi. Tetapi tatkala kita mampu mengelola emosi negatif yang kita miliki dengan menarik nafas dalam, berkata dengan tenang dan halus, dan malah berusaha membantu kesulitan yang dihadapi oleh tukang tambal ban, ternyata itulah solusi dari permasalahan yang kita hadapi.
Ini mungkin hanya satu buah cerita ringan yang sesungguhnya bisa jadi masing-masing kita pernah mengalaminya dalam versi yang berbeda. Tatkala tuntutan pekerjaan datang tanpa henti, tetapi tiba-tiba kita disela oleh masalah sepele tetapi bikin kesel, tiba-tiba pula kita kehilangan kebijaksanaan dan berubah menjadi “serigala-serigala” baru yang siap menerkam mangsanya. Padahal sebenarnya perilaku tersebut bukanlah sebuah jalan keluar atas masalah yang sedang mendera kita. Bila kita mau sedikit berbenah, merubah pola pikir, mengendalikan emosi yang kita miliki niscaya malah kita telah berhasil menemukan sebuah pencerahan baru bagi kehidupan kita, dan sesungguhnya semua yang kita lakukan tadi adalah demi kebaikan diri kita sendiri. Monggo Lanjut...
Langganan:
Postingan (Atom)