Setiap pagi, sebelum berangkat kerja ada salah satu kegiatan yang nyaris tidak pernah saya tinggalkan. Berhubung sepatu yang saya miliki untuk ke kantor juga cuma satu, sehingga setiap pagi sebelum berngkat kerja pasti saya menyemir sepatu saya terlebih dahulu. Kegiatan ini berlangsung tidak lebih dari 5 menit, entah sudah benar-benar mengkilap atau belum, yang jelas sepatu yang sudah di semir pasti memiliki perbedaan dengan sepatu yang tidak di semir. Biar sedikit kelihatan lebih hitam dan tidak jorok ahh.
Seperti pagi tadi, sebelum keluar rumah saya menyempatkan diri untuk menyemir terlebih dahulu sepatu hitam butut itu. Sedang asyik-asyiknya melakukan pe-nyemiran, terpikir oleh saya kenapa saya setiap pagi sebelum berangkat kerja musti menyemir sepatu ini? toh nanti juga kotor lagi? Benar kan pikiran saya pagi itu? Anda juga yang suka menyemir sepatu pernah terpikir demikian tidak? Kenapa kita musti menyemir sepatu yang kita miliki tiap pagi? Padahal tidak sampai sore sepatu tersebut juga sudah lusuh lagi, kena debu dan kotor, apalagi kalau musim hujan begini. Tetapi apakah setelah berpikir demikian adakah dari kita yang akhirnya memilih untuk tidak lagi menyemir sepatu? Saya yakin jawaban kita sama, yakni tidak. Kita masih akan tetap menyemir sepatu kita setiap pagi meski kita tahu bahwa tidak sampai siang sepatu itu sudah kotor lagi.
Kalau begitu keranjingannya kita dengan kegiatan menyemir sepatu, mustinya begitu juga rajinnya kita menyemir hati yang kita miliki. Hati juga perlu di bersihkan dari kotoran-kotoran, dari debu-debu kehidupan, hati juga butuh untuk di semir agar lebih mengkilap atau minimal kelihatan lebih “klimis” tanpa noda. Hati yang kita miliki juga bisa berdedu, kotor karena entah perilaku diri kita sendiri atau juga pengaruh lingkungan. Betapa banyaknya dari kita yang masih mudah meng-ejawantahkan emosi negatif kita dengan bentuk rasa marah. Masih ada dari kita yang belum mampu berbuat dengan ikhlas, masih banyak juga dari kita yang belum sabar. Bahkan karena seringnya kita melihat telivisi yang menayangkan tontotan “sampah”, akhirnya bisa membuat diri kita menjadi pesimis melihat bangsa ini. Itulah hati kita, mudah sekali terpengaruh kalau kita tidak berusaha menjaga dan kembali setia kita semir ulang.
Kalau menyemir sepatu mungkin kita lakukan setiap pagi, tetapi kalau menyemir hati lebih baik kita lakukan dengan frekuensi yang lebih sering. Bagi yang muslim, kita memiliki kesempatan 5 hari sekali untuk melakukan penjernihan kembali hati yang kita miliki, bisa di tambah duha di pagi hari, tilawah di siang hari dan tahajud di malam hari. Sering- sering juga berkumpul dengan orang-orang salih, atau lebih lengkapnya ada di tombo ati-nya Bang Opik. Bagi yang Nasrani dan Katolik setiap akan melakukan apapun Anda di minta untuk berdoa, bersyukur pada Tuhan atas segala karunia yang Dia berikan. Berdoa adalah momentum yang sangat tepat sekali dalam perjernihan hati. Bagi yang Hindu atau Budha, meditasi mungkin adalah cara yang paling tepat untuk kembali membuat hati menjadi lebih bersinar.
Kenapa sebenarnya kita musti terus-menerus membersihkan hati kita? Sederhananya karena hati kita mudah sekali tertutupi awan-awan pekat kehidupan, tetapi yang lebih penting sesungguhnya hanya dengan hati yang jernih kita baru bisa melihat dunia, hanya dengan hati yang bening kita bisa mendengar nasehat kehidupan, hanya dengan hati yang jernih kita bisa tersentuh dan hanya dengan hati yang bening kita mudah merasakan lembutnya kasih sayang. Dengan hati yang bisa melihat dunia, kita akan menjadi manusia yang lebih utuh, mampu bertindak dengan penuh ketenangan, mudah melihat peluang, suka berbagi dan menjadikan diri kita lebih berarti. Bukan hanya berarti untuk diri sendiri, tetapi juga kepada sesama. Sekarang Anda bisa memilih, menjadikan hati Anda lebih jernih, lebih bening dan bersinar, atau membiarkannya tertutup awan-awan keburukan dan pesimisme. Silahkan Anda tentukan sendiri.
Monggo Lanjut...
Jumat, 20 Januari 2012
Senin, 16 Januari 2012
Hidup, “Tidak Perlu” Berpengalaman
Mungkin ada dari Anda yang tidak sepakat dengan judul diatas? Tidak apa-apa, itu hak Anda untuk berpendapat atau memiliki persepsi tersendiri dalam melihat hidup, melihat kehidupan. Tetapi saya hendak menyampaikan artian judul diatas dalam persepsi saya.
Begini, seandainya semua pekerjaan, aktivitas dan kehidupan yang akan kita jalani itu semua-muanya musti mensyaratkan kita harus berpengalaman terlebih dahulu di suatu bidang hinggga kita baru boleh melakukan pekerjaan atau aktvitas di bidang tersebut niscaya tidak ada satupun pekerjaan di dunia ini yang akan di laksanakan oleh manusia. Kenapa begitu? Apakah seluruh Pilot pesawat di awalnya mereka sudah punya pengalaman menerbangkan pesawat baru boleh menerbangkan pesawat? Jawabnya Anda tahu sendiri kan? Apakah semua pembicara yang pernah anda dengar itu semua-muanya hebat di awal? Tiba-tiba hebat? Saya yakin Anda juga tahu jawaban dari pertanyaan ini. Dan menurut saya yang paling ekstrim adalah analogi ini? Apakah semua laki-laki atau perempuan harus berpengalaman dulu baru menikah? Anda mau bersuamikan atau beristrikan orang yang sudah sangat berpengalaman menikah menjadi suami atau istri Anda? Hehe.
Ini hanya sebuah analogi saja, bahwa pada titik-titik tertentu dalam hidup, pengalaman itu tidak diperlukan. Yang diperlukan hanya keberanian. Tatkala ada dari Anda yang ditawari sebuah amanah, dan Anda menolak hanya karena Anda merasa tidak berpengalaman berarti Anda sedang menolak untuk belajar. Anda yang mau menulis tetapi tidak jadi menulis gara-gara Anda tidak pernah menulis, itu berarti Anda tidak akan pernah menulis. Anda yang mau membuka sebuah usaha tetapi tidak jadi hanya karena merasa tidak punya pengalaman, berarti Anda tidak akan pernah menjadi pengusaha. Apalagi Anda yang tidak jadi menikah hanya gara-gara Anda belum menikah? Hahaha
Untuk yang terakhir ini tidak usah di bahas lebih panjang ya, karena saya juga merasa tertohok. Hehe. Jelasnya begini, apapun yang ingin Anda lakukan, kerjakan. Apapun yang ingin Anda kerjakan, lakukan. Just do it. Jangan menunggu Anda memiliki prasyarat-prasyarat yang tidak jelas dan malah membuat Anda ragu melangkah. Jadikan semua yang datang kepada Anda sebagai pembelajaran, sebagai penambah pengalaman, bukan sebagai penghalang Anda untuk berhenti melangkah apalagi mundur kebelakang. Tetap semangat
Terimakasih inspirasinya Ustad Aris Ahmad Jaya Monggo Lanjut...
Begini, seandainya semua pekerjaan, aktivitas dan kehidupan yang akan kita jalani itu semua-muanya musti mensyaratkan kita harus berpengalaman terlebih dahulu di suatu bidang hinggga kita baru boleh melakukan pekerjaan atau aktvitas di bidang tersebut niscaya tidak ada satupun pekerjaan di dunia ini yang akan di laksanakan oleh manusia. Kenapa begitu? Apakah seluruh Pilot pesawat di awalnya mereka sudah punya pengalaman menerbangkan pesawat baru boleh menerbangkan pesawat? Jawabnya Anda tahu sendiri kan? Apakah semua pembicara yang pernah anda dengar itu semua-muanya hebat di awal? Tiba-tiba hebat? Saya yakin Anda juga tahu jawaban dari pertanyaan ini. Dan menurut saya yang paling ekstrim adalah analogi ini? Apakah semua laki-laki atau perempuan harus berpengalaman dulu baru menikah? Anda mau bersuamikan atau beristrikan orang yang sudah sangat berpengalaman menikah menjadi suami atau istri Anda? Hehe.
Ini hanya sebuah analogi saja, bahwa pada titik-titik tertentu dalam hidup, pengalaman itu tidak diperlukan. Yang diperlukan hanya keberanian. Tatkala ada dari Anda yang ditawari sebuah amanah, dan Anda menolak hanya karena Anda merasa tidak berpengalaman berarti Anda sedang menolak untuk belajar. Anda yang mau menulis tetapi tidak jadi menulis gara-gara Anda tidak pernah menulis, itu berarti Anda tidak akan pernah menulis. Anda yang mau membuka sebuah usaha tetapi tidak jadi hanya karena merasa tidak punya pengalaman, berarti Anda tidak akan pernah menjadi pengusaha. Apalagi Anda yang tidak jadi menikah hanya gara-gara Anda belum menikah? Hahaha
Untuk yang terakhir ini tidak usah di bahas lebih panjang ya, karena saya juga merasa tertohok. Hehe. Jelasnya begini, apapun yang ingin Anda lakukan, kerjakan. Apapun yang ingin Anda kerjakan, lakukan. Just do it. Jangan menunggu Anda memiliki prasyarat-prasyarat yang tidak jelas dan malah membuat Anda ragu melangkah. Jadikan semua yang datang kepada Anda sebagai pembelajaran, sebagai penambah pengalaman, bukan sebagai penghalang Anda untuk berhenti melangkah apalagi mundur kebelakang. Tetap semangat
Terimakasih inspirasinya Ustad Aris Ahmad Jaya Monggo Lanjut...
Label:
agus sugito,
hidup,
pengalaman
Langganan:
Postingan (Atom)